IBNU AL-HAYTHAM : MYSTERIES OF HOW WE SEE

Semenjak waktu Yunani kuno, manusia sangat tertarik pada desas-desus yang berkaitan dengan pandangan manusia. Tidak lainnya sebab pandangan manusia pada sekelilingnya bisa merubah persepsinya pada dunia seputar. Pandangan dapat juga merubah pikiran manusia: apakah yang dia pikirkan, bagaimana triknya berfikir, serta apakah pandangan mengenai yang dia pikirkan. Mata membuat manusia bertanya-tanya ‘apa yang membuat langit terlihat biru, kadang gelap, serta setiap saat seperti merah membara’. 

IBNU AL-HAYTHAM : MYSTERIES OF HOW WE SEE

IBNU AL-HAYTHAM : MYSTERIES OF HOW WE SEE
Pranalar

Kurang lebih era ke-5 Sebelum Masehi, Empedocles—seorang filsuf Yunani—bernalar jika dewi Yunani Aphrodite sudah menempatkan api di mata manusia, lantas mata pancarkan cahaya ke seputar, hingga manusia bisa lihat beberapa benda, langit, tanaman, ataupun manusia yang lain. Buat manusia waktu saat ini, ide ini terdengar menyeramkan: manusia pancarkan cahaya dari matanya.

Walau demikian, ide yang dipelopori Empedocles serta diteruskan oleh pemikir Yunani yang lain ini mampu bertahan di beberapa belahan Bumi sampai era ke-10 Masehi. Buat Abu Ali al-Hasan ibn al-Haytham, ide yang tahan lama ini terdengar aneh, serta ilmuwan ini berfikir jika harusnya ada keterangan lainnya yang semakin dapat di terima logika. Jadi, ibn al-Haytham juga berikhtiar temukan jawabannya sendiri.

Ibn al-Haytham tidak ingin mem
ercayakan spekulasi serta mencari jalan yang semakin dapat dipertanggungjawabkan untuk mengerti kejadian ‘manusia melihat’. Dia tidak senang cukup dengan hitungan matematis serta geometris, serta karenanya lakukan rangkaian uji coba. Dengan menukik, ibn al-Haytham menyelidik sinar, warna, bayangan, pelangi, serta kejadian optis lainnya.

Penelitian eksperimental ini, yang dibarengi bahasan matematis-geometris, menghasilkan tujuh jilid Kitab al-Manazir. Karya fantastis ini lalu ditranslate ke Bahasa Latin menjadi Opticae Thesaurus Alhazeni (Book of Optics). Lebih dari peran pada bagian optika, karya mengagumkan ini mendasarkan kesimpulannya diatas bukti-bukti eksperimental daripada penalaran abstrak—dan adalah publikasi pertama yang lakukan hal tersebut. Peran Alhazen dapat dibuktikan demikian berarti.

Ibn al-Haytham sudah menyiapkan bukti eksperimental pertama jika sinar tidak memancar dari mata manusia, tetapi dipancarkan atau dipantulkan oleh object. Uji coba ibn al-Haytham mungkin tampak simpel dilihat dari waktu saat ini, akan tetapi metodologinya benar-benar mengguncang: dia meningkatkan tesis berdasar pada observasi jalinan fisik dan mendesain uji coba untuk menguji tesis itu.

Uji coba ini adalah momen besar dalam perubahan metodologi penelitian ilmiah moderen. Dalam soal cara uji coba, ibn al-Haytham menyusul beberapa ilmuwan Barat 200 tahun; serta mereka biasanya membaca terlebih dulu Kitab al-Manazir. Karyanya merubah figur intelektual Barat seperti Roger Bacon (1214-1294), John Pecham (1230-1292), Witelo (1230-...), Johannes Kepler (1571-1630). Karya rintisannya dalam teori angka, geometri analitik, ataupun tautan aljabar serta geometri ikut merubah Rene Descartes (1596-1650) ataupun Isaac Newton (1643-1727).

Kedalaman penelusuran ibn al-Haytham dalam bagian optik mencapai lokasi lebih jauh saat tidak
cuma membahas perambatan sinar di beberapa medium, dan kejadian refleksi serta refraksi, tetapi ikut persepsi visual manusia. Dia tekuni anatomi mata manusia sampai dia membahas tema mengenai ilusi serta persepsi visual—di titik ini, ibn al-Haytham membahas psikologi manusia. Menjadi ilmuwan, ibn al-Haytham sudah lakukan perjalanan panjang dalam ikhtiarnya mengerti potensi manusia dalam lihat. Menjadi penghormatan pada ibn al-Haytham, Oktober depan akan diselenggarakan Festival Sains Manchester, Inggris, dengan topik: Ibn al-Haytham: Mysteries of How We See

0 Response to "IBNU AL-HAYTHAM : MYSTERIES OF HOW WE SEE"

Post a Comment